Tilik 7 Sumber mata Air di 7 desa (Festival Sumber Tunjung), kearifan lokal milik masyarakat di lereng gunung Argopuro

  • Dec 12, 2024
  • DEWI PANTI

 

Kegiatan Tilik 7 Sumber Mata Air di 7 Desa di Kecamatan Panti, Jember, yang berada di lereng Gunung Argopuro, adalah tradisi yang kaya akan nilai budaya, spiritualitas, dan pelestarian lingkungan. Ritual Tilik Sumber Mata Air ini masuk dalam salah satu agenda Festival Sumber Tunjung, sebuah perayaan unik yang menggali potensi lokal sekaligus menguatkan identitas masyarakat sekitar. Berikut adalah kisah dan makna di balik kegiatan ini:

  1. Asal Usul dan Filosofi

Kegiatan tilik (kunjungan) ke sumber mata air berakar dari tradisi masyarakat lokal yang menghormati alam sebagai sumber kehidupan. Sumber mata air dianggap sebagai pusat energi yang memberikan keberkahan, terutama di kawasan pegunungan seperti Argopuro. Nama Sumber Tunjung sendiri berasal dari bunga teratai (tunjung), yang melambangkan kesucian dan keseimbangan. Tunjung juga salah satu nama sumber mata air dari 7 sumber mata air yang akan di tilik

Tradisi ini berawal dari kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya air, terutama sebagai aset ekologis yang menopang kehidupan sehari-hari, mulai dari irigasi pertanian hingga kebutuhan air bersih.

  1. Ritual dan Prosesi

Festival ini melibatkan ritual adat dan prosesi yang menggabungkan nilai spiritual dan budaya, seperti:

  • Pengambilan Air dari Tujuh Sumber: Air diambil dari tujuh sumber mata air yang tersebar di tujuh desa, masing-masing memiliki cerita dan mitos tersendiri, berikut nama-nama sumber mata air yang menjadi tujuan ritual tilik 7 sumber mata air :
    1. Sumber Tunjung yang berada di desa Panti.
    2. Sumber Kembar yang berada di desa Pakis.
    3. Balong kramat mbah kyai nur di desa kemuningsari lor
    4. Sumber Waduk didesa Glagahwero
    5. Sumber Suci yang berada didesa Suci
    6. Sumber Sembah Kemiri yang berada di desa Kemiri
    7. Sumber Suko yang berada didesa Serut
  • Doa Bersama: Dipimpin oleh tokoh adat, ritual ini berisi doa untuk kelestarian alam dan kemakmuran masyarakat serta rasa syukur kita terhadap sang pencipta alam dan seisi nya tuhan yang maha esa Allah SWT
  1. Makna Spiritual dan Budaya
  • Spiritual: Masyarakat percaya bahwa sumber mata air adalah titipan leluhur yang harus dijaga dan dihormati. Ritual ini menjadi sarana komunikasi dengan alam dan leluhur. 
    • Budaya: Festival ini menjadi ajang untuk mempererat hubungan antarwarga melalui seni dan budaya lokal, seperti tarian tradisional, musik, dan kuliner khas.

     

    1. Puncak kegiatan Festival Sumber Tunjung

    Festival Sumber Tunjung tidak hanya berisi kegiatan adat, tetapi juga menampilkan berbagai acara, seperti:

    • Kirab 7 sumber mata air: Prosesi 7 sumber mata air di kirab menuju lapangan Alun-Alun Kecamatan Panti yang di sandingkan dengan 7 gunungan Hasil Bumi tiap 7 desa, nanti nya akan ada ritual penyatuan 7 sumber mata air ini oleh 7 kepala desa yang pandu langsung oleh bapak bupati Jember
    • Pentas seni dan budaya Lokal, seperti jaranan, reog, dan lain sebagai nya.
    1. Pentingnya Pelestarian

    Gunung Argopuro dan sumber mata air di sekitarnya menjadi ekosistem penting bagi Kabupaten Jember. Kegiatan tilik ini adalah wujud nyata kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan di tengah tantangan modernisasi. Dengan mengemasnya sebagai festival, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi tetapi juga mengembangkan potensi pariwisata lokal.

    1. Dampak Positif

     

    • Ekonomi Lokal: Festival ini menghidupkan perekonomian desa melalui kunjungan wisatawan.
    • Kesadaran Lingkungan: Menumbuhkan rasa cinta alam dan tanggung jawab kolektif terhadap konservasi.
    • Promosi Budaya: Memperkenalkan warisan budaya lokal kepada generasi muda dan pengunjung.

    Kisah di balik kegiatan ini menggambarkan bagaimana tradisi lokal dapat menjadi inspirasi untuk pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Jika terus dilestarikan, Festival Sumber Tunjung bisa menjadi ikon budaya dan ekowisata yang mendunia.